Anak Alergi Protein Susu Sapi, Orang Tua Gak Perlu Bingung!!

5 Apr 2016

Memiliki buah hati tentunya dambaan semua orangtua, namun apakah sebagai orangtua sudah memberikan nutrisi yang tepat di awal kehidupan hingga 1000 hari pertama demi optimalnya tumbuh kembang anak dan pencegahan dampak jangka panjang.

Untuk itu sarihusada pada hari kami, 24 maret 2016 mengundang para blogger, media, dan teman-teman komunitas untuk berdiskusi bareng sebagai acara rutinnya sarihusada #Nutritalk kali ini mengambil tema “ Early Life Nutrition” yang membahas mengenai pentingnya menyadari faktor risiko alergi pada anak, mengenali gejala-gejala alergi, dan menyadari peran penting nutrisi yang tepat di awal kehidupan bagi optimalisasi tumbuh kembang anak dengan alergi protein susu sapi.

Dengan menghadirkan pembicara langsung oleh pakarnya, yakni Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), Mkes selaku Konsultan Alergi Imunologi Anak Fakultas Kedokteran, UNPAD dan DR. Dr. Rini Sekartini, SpA(K) Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM Jakarta.

Diskusi yang dipandu oleh seorang dokter pula yang sudah tidak asing dilayar televisi,yakni dr Lula Kamal. Saat buka diskusi menurutnya salah satu upaya penanganan sejak dini yang paling penting adalah pemberian nutrisi awal kehidupan yang tepat, yaitu nutrisi yang mudah dicerna dan well tolered bagi anak-anak yang tidak toleran terhadap protein susu sapi.

Paparan yang di awali oleh DR. Dr. Rini Sekartini, SpA(K), memaparkan “ Nutrisi awal kehidupan yaitu yang diterima anak sejak dalam kandungan sampai sekitar usia 2 tahun, memiliki peran sangat besar pada kualitas tumbuh kembang anak dan tingkat kesehatan pada usia dewasa. Namun ada asupan nutrisi tertentu pada awal kehidupan, yang sebenarnya mengandung gizi yang dibutuhkan untukmendukung tumbuh kembang yang optimal, tapi tidak bisa ditoleransi oleh anak-anak dengan resiko alergi.”

Selanjutnya menurut Prof. Budi, Penyebab alergi pada anak dapat di indikasi / riwayat alergi dari kedua Ortu, apabila keduanya memiliki alergi maka risiko alergnya sebesar 40-60%, namun anak dengan salah satu Ortu yang memiliki riwayat alergi berisiko mengalami alergi sebesar 20-30%. Bahkan anak dengan ortu yang tidak memiliki riwayat alergi pun tetap berisiko mengalami alergi sebesar 5-15%.

Selain itu, menurut Prof.Budi, Alergi tidak perlu ditakutkan, karena alergi tidak menular.

Bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif, dapat menggantinya dengan susu khusus yakni susu dengan formula “ Hidrolisis Parsial” usia 4-6 bulan. Selain itu apabila bayi alergi terhadap protein susu sapi dapat diganti dengan susu soya atau susu kedelai yang dapat dijadikan pilihan yang aman bagi anak.

Prof, Budi menjelaskan Protein terhidrolisis Parsial adalah sebuah hasil dari teknologi yang memotong panjang rantai protein menjadi lebih pendek dan memperkecil ukuran massa molekul protein sehingga protein akan lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak.

Solusi agar pencegahan alergi pada anak dapat dicegah yaitu perlunya komunikasi ortu dengan dokter. Tambah Prof. Budi.

Tumbuh kembang anak, ortu harus rajin mengecek Berat badan bayi min 3 bulan sekali, sdangkan anak 6 bulan sekali.

Pada nutritalk kemarin diperkenalkan juga Kartu Deteksi Dini UKK Alergi Imunologi yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kartu tersebut dapat membantu ortu untuk menghitung risiko alergi pada anak, kartu yang memuat nilai risiko keluarga pada ayah, ibu, dan saudara kandung, sehingga penanganan alergi dapat dilakukan sedini mungkin dan sekomperehensif mungkin.

Sampai ketemu dengan tema yang berbeda seputar kesehatan ibu dan anak bersama #nutritalk, bye.***

 

Salam Sehat


TAGS #Nutritalk Alergi Protein Susu Sapi


-

Author

Search

Recent Post